Showing posts with label Filosofi. Show all posts
Showing posts with label Filosofi. Show all posts

Sunday, August 23, 2020

What do you want to do in your life?



At the end of 2019 i kept saying "2020 will be my year"

Yeah, i had been through a lot in 2019 then i promised 2020 will be my turning point.

And then guess what? When things seems goes right, there's this other thing called corona virus have been destroying everything.

I spent months in my room because everything just 'not normal' anymore out there.

On the bright side, I am inside of the circle of lucky people who safe financially in this pandemic. 

However, it's still drive me crazy tho because normally i hate going outside because i just don't want to, now i hate that i can't go outside because people keep telling me not to do.

Well, it gives me lots of time to sit and think about one question. One big question.

"What i want to do in my life?"

No, the real question is "What i really want to do in my life"

The problem is, i believe in causal theory, whatever decisions i take today, it will surely establishing my future at some point.

It make me really worry. Quarter life crisis is real, at least for some of young people.

A wise man said "try everything before you turn 30, make some mess, and then in 30, try to settle because you probably already find what you really want to do in life"

I like that words but what if everything turns crazy? What if i messed up because i decided my 20s will be my learning period.

I wonder if instead of spending my 20s trying to figure out things, what about choosing one path and stick to that path?

Maybe this will answer my question, or probably yours too.

Instead of trying to plan things, why don't you just act like you are walking on the road, you gonna see things, you will see beautiful thing such sunrise or sunset, you probably will see a car accident. But at the end of the day, you just going to take rest and wait for tomorrow. 

Yeah, my point is just to live in the present. Let the wind guide you somewhere you never think of. 

"Life is like waiting for the train, sometime you catch it sooner, sometime you miss it and have to wait for another train, what if you miss your last train? well, you can still walk, you might get tired, but at the end, you still have to go to this place called destiny"

Rizki, August 23th, 2020



Thursday, June 4, 2020

Sa Papua Sa Indonesia




Ada dua tipe orang :

1. yang bersimpati dan berharap papua punya negara sendiri
2. menyuarakan dan mendukung papua merdeka dengan tindakan

golongan 1 termasuk gue, adalah orang2 yang tidak melanggar hukum


golongan 2 mendukung separatisme yang jelas melanggar konstitusi..
Gue paham apa yang dirasakan sjw2 karna mungkin gue juga merasakan hal yang sama. Tapi bersimpati dengan orang Papua tidak mesti mendukung atau mendorong mereka bikin negara sendiri.

Gue juga gak habis pikir, seolah2 kalau Papua merdeka, maka hidup mereka akan lebih baik. Untuk saat ini? Gue rasa enggak mungkin.

Menurut gue permasalahan Papua akarnya adalah tidak meratanya pembangunan ekonomi. Walaupun bukan pendukung Jokowi, gue acungi jempol karna di pemerintahan Jokowi, Papua sudah mulai diperhatikan.

Banyak yang bilang Papua harusnya negara merdeka karna secara ras pun berbeda dengan orang di Indonesia barat yang merupakan ras melayu, secara kultur pun Papua berbeda dengan Indonesia Barat. kalo ini gue gak setuju, sejak kapan negara harus satu ras dan satu kultur?

Membangun Papua bukan pekerjaan mudah, gue rasa siapapun presidennya gak akan bisa menyulap Papua menjadi daerah maju dalam sekejap. Semua butuh waktu dan proses.

Yang bisa kita lakukan adalah terus menekan pemerintah pusat agar terus berupaya membangun Papua tidak hanya infrastruktur tapi juga SDM nya.

Gue juga berharap semakin banyak orang Papua yang migrasi ke pulau2 lain di Indonesia supaya kita bisa akulturasi dan asimilasi. Dan kalau ada yang berlaku rasis sama2 kita dorong supaya orang2 rasis ini ditindak, bukan pekerjaan mudah memang, tapi kita harus coba

Sekali lagi, menurut gue mencintai Papua tidak harus mendorong mereka merdeka. Sekesal2nya gue dengan apa yang terjadi di Indonesia, hati kecil gue masih mencintai negara ini. Gue berharap Indonesia menjadi negara yang bangsanya solid. Bangsa yang mencintai kultur masing2, tapi membeda2kan.

Sunday, May 31, 2020

Teori Konspirasi, Berpikir Kritis, dan Kebenaran Mutlak

Jika kita berbicara mengenai teori konspirasi maka yang sering muncul di benak kita saat ini adalah istilah - istilah :

-Bumi Datar
-Elit Global
-9/11
-dsb.

Ada beberapa teori konspirasi yang cukup terkenal, seperti misalnya pendaratan astronot asal Amerika Serikat, Neil Amstrong di bulan. Menurut teori konspirasi, pendaratan manusia di bulan merupakan hoaks yang sengaja dibuat oleh Amerika Serikat yang saat itu terlibat perang dingin dengan Uni Soviet.



Konon Amerika Serikat sengaja mengarang pendaratan manusia bulan untuk memancing seteru mereka untuk melakukan hal serupa. Sehingga Uni Soviet kemudian akan mengerahkan keuangan dan fokus negaranya untuk projek astronomi yang tentunya akan berdampak pada ekonomi Uni Soviet.

Uni Soviet memang akhirnya bubar, namun, tentunya bukan karna proyek astronomi. Tapi karna beberapa hal seperti jatuhnya harga minyak dunia, konflik antar etnis, dan gerakan nasionalis yang dipicu keruntuhan ekonomi Uni Soviet.

Meskipun Neil Amstrong masuk di buku - buku pelajaran sebagai manusia yang pertama mendarat di bulan. Namun, cukup banyak orang bahkan warga Amerika Serikat sendiri yang menyangsikan kebenaran pendaratan Neil di bulan. Mungkin termasuk anda yang membaca tulisan ini?

Teori konspirasi populer lainnya adalah peristiwa 9/11 yaitu penyerangan dengan cara menabrakkan pesawat ke twin tower WTC yang juga terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2001. Peristiwa ini akhirnya memicu Islamophobia secara global karena Al-Qaeda dipercaya sebagai pelaku utama dari serangan yang menyebabkan ribuan orang tewas itu.



Namun, menurut teori konspirasi, 9/11 merupakan inside job artinya serangan ini sengaja dilakukan oleh pihak Amerika Serikat agar punya alasan untuk menyerang Iraq dan melumpuhkan kekuasaa nSaddam Husein yang dituding bekerja sama dengan Al-Qaeda. Tujuannya adalah agar lebih mudah menguasai minyak yang ada di negara tersebut.

Ada banyak lagi teori konspirasi yang bisa dengan mudah ditemukan di internet. Seperti misalnya ISIS yang katanya sengaja dibentuk oleh Amerika Serikat untuk mengganggu negara - negara kaya minyak di Timur Tengah..

Teori konspirasi yang sekarang bergaung di 2020 adalah mengenai virus corona. Amerika Serikat dan China saling tuding  bahwa virus corona sengaja dibuat atau disebarkan oleh salah satu dari mereka untuk melumpuhkan ekonomi negara masing - masing.

Ada juga yang mengatakan bahwa virus corona sengaja disebarkan elite global untuk menekan angka populasi atau keuntungan finansial melalui penjualan vaksin.

Lalu bagaimana kita harus bersikap terhadap teori konspirasi? 

Dulu saya merupakan orang yang sangat anti dengan teori konspirasi. Saya menganggap bahwa orang- orang yang percaya teori konspirasi adalah orang - orang yang mudah dibodohi.

Namun, seiring berkembangnya pola pikir. Saya mulai bersimpati terhadap orang - orang yang percaya dengan teori konspirasi. 

Bagi saya teori konspirasi hanyalah dongeng belaka selama belum bisa dibuktikan secara konkrit. Namun, bukan berarti saya  menganggap bahwa semua teori konspirasi adalah kebohongan.

Bagi saya, selain dongeng, teori konspirasi juga merupakan alternative dari kepercayaan saya. Teori konspirasi mengajarkan saya untuk berpikir kritis. Kenapa? Karena bagi saya kebenaran itu mesti didalami lagi.

Jangan mudah percaya akan sesuatu hanya karena semua orang sepakat bahwa itu  adalah benar. Coba dalami lagi sebuah informasi sebelum mengambil tindakan.

Kita tidak perlu menjadikan teori konspirasi sebagai patokan dalam mengambil keputusan. Tapi jadikanlah toeri konspirasi sebagai dasar untuk lebih berhati - hati dan lebih kritis terhadap informasi.

Orang yang percaya dengan konspirasi virus corona misalnya. Seharusnya tidak menjadikan orang itu abai dengan protokol kesehatan yang dianjurkan, agar terhindar dari virus tersebut.

Dan bagi orang yang tidak percaya dengan teori konspirasi, janganlah jadikan orang - orang yang percaya teori itu sebagai bahan tertawaan. Lebih baik ajak diskusi terbuka. Diskusi lho ya, bukan debat ngalor ngidul.

Satu hal lagi, mungkin saat ini kita menganggap teori konspirasi hanyalah sebagai kedunguan. Tapi kita tidak pernah tau, bisa saja teori itu pada akhirnya terbukti benar. Mungkin saja kan?

Rizki Muhadi


Saturday, May 30, 2020

George Floyd, Tragedi Kemanusiaan, dan People Power


25 Mei 2020, di sebuah kota bernama Minneapolis, Amerika Serikat telah terjadi tragedi yang menyayat hati dan membuat geram siapapun yang menyaksikannya.

Sebuah video tentang seorang polisi bernama Derek Chauvin yang menginjak leher pria berkulit hitam bernama George Floyd dengan lututnya hingga menyebabkan korban meninggal dunia.



George Floyd diduga melakukan tindak pemalsuan dokumen. Derek Chauvin berdalih bahwa George Floyd melakukan perlawanan ketika ditangkap. 

Setelah video tersebut viral di internet, keempat polisi yang terlibat dipecat. Namun, warga tidak puas hanya dengan pemecatan. Mereka ingin agar Derek Chauvin dan rekan-rekan ditangkap atas kasus pembunuhan.

Tragedi ini memicu kerusuhan di Minneapolis dikarenakan warga menuntu keadilan untuk George Floyd.



Dua hari setelah kejadian itu terjadi kerusuhan dan banyak sekali bangunan dibakar dan dijarah massa. Termasuk kantor polisi di Minneapolis.

29 Mei 2020, Derek Chauvin pun ditangkap atas kasus pembunuhan tingkat ketiga dan kemungkinan bisa naik setelah investigasi berlanjut.

Ketika kerusuhan itu terjadi, warga Amerika Serikat terbelah dua. Ada yang mendukung aksi tersebut, namun ada juga yang menganggap bahwa tindak kerusuhan dan penjarahan itu tidak akan membawa keadilan bagi George Floyd.

Namun, sepertinya opini kedua tersebut salah. Meskipun tidak bisa dibuktikan bahwa penangkapan Derek Chauvin disebabkan tekanan dari massa yang berunjuk rasa. Setidaknya itu pasti akan menjadi salah satu pertimbangan bagi aparat setempat untuk meredakan kerusuhan.

Apa yang dilakukan oleh Derek Chauvin terhadap George Floyd, jika dilihat dari sudut manapun, akan tetap salah.

Mungkin Derek tidak akan menduga kalau tindakan yang dilakukannya akan memicu sebuah kerusuhan besar dan kemungkinan untuk dia menghabiskan sisa hidupnya di penjara.

Kerusuhan bukanlah sesuatu yang kita semua inginkan. Tapi Martin Luther King pernah berkata "Riot is language of unheard". Maknanya, jika suara dibawah tak didengarkan, maka kerusuhanlah yang akan berbicara. 

Jika kita coba ingat, kerusuhan di 1998 juga pernah membuat Presiden Suharto yang sudah menjabat selama 32 tahun akhirnya melepaskan kekuasannya.



Semoga ini menjadi pelajaran untuk kita semua. Terutama aparat dan para pejabat di negara kita Indonesia.

Meskipun aparat dan pejabat dilindungi oleh berbagai senjata. Pada akhirnya people power adalah senjata terkuat yang membuat penguasa harus berhati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan. Dalam negara demokrasi, kedaulatan berada di tangan rakyat.

Pemerintah harus selalu membuka telinga untuk mendengarkan suara rakyat. Maka dari itu, niscaya kerusuhan yang tidak kita inginkan tidak akan pernah terjadi.

Selamat jalan George Floyd, semoga kepergianmu berbuah revolusi di Amerika Serikat dan juga dunia bahwa tindak rasisme dan kekerasan aparat terhadap rakyat sipil adalah hal yang haram terjadi.

Bekasi, 30 Mei 2020.

Tuesday, December 31, 2019

Cerita Move on (Ketika Saya Berpikir Tidak Bisa Hidup Tanpa Dia)


Sebagai penulis amatir, banyak hal yang suka saya bagikan, tema tentang cinta mungkin pilihan terakhir.

Tapi saya ingin membagikan ini, mungkin supaya kita bisa sama-sama belajar.

Waktu SMP saya pernah menyukai seseorang, saya pikir mungkin itu hanya cinta monyet. Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata perasaan itu tidak pernah hilang.

Ada seseorang yang dalam diam saya perjuangkan selama bertahun-tahun. Kurang lebih hampir dua belas tahun (dan saya sekarang masih 23 tahun) sampai pada akhirnya saya menyerah.

Tapi dalam dua belas tahun itu saya juga mencoba membuka diri. Ada beberapa orang juga yang saya dekati, Tapi sama sekali tidak memudarkan perasaan saya terhadap gadis ini.

Sampai akhirnya momentun itu ada di Januari 2019, saya memberanikan diri untuk bertanya apakah dia mau bersama saya.

Sesuai spoiler yang sudah saya katakan di awal tulisan, tentunya itu berakhir penolakan.

Kecewa? Tentu iya, tapi tidak sebegitunya. Maksud saya, mungkin karna sejak awal tidak punya ekspektasi sama sekali. Jadi saya tidak begitu kecewa. Hanya sedih beberapa saat dan kemudian saya bilang "Ok. life must goes on!"

Sampai saya menulis tulisan ini, sudah hampir setahun saya putus komunikasi dengan dia. Dan yang mengejutkan adalah, ternyata rasanya biasa saja. Dan seiring berjalannya waktu perasaan itupun hilang tak berbekas.

Ironis karna dulu saya berpikir kalau bukan dengan dia mungkin saya lebih baik sendiri seumur hidup, kalau tidak dengan dia saya pasti tidak bahagia.

Tapi kenyataannya? Saya baik-baik saja. Dalam dua belas tahun ini saya juga dekat dengan beberapa gadis dari berbagai negara. Itu benar-benar membuka mata saya. Kenapa saya harus menangisi seseorang kalau di dunia yang luas ini banyak sekali pilihan.

Maksud saya membagikan tulisan ini, saya hanya mau menyampaikan. Kadang hidup tak berjalan sesuai yang kita harapkan. Dan tentunya itu menyakitkan. Tapi jangan pernah kehilangan harapan. Teruslah jalani hidup. Berjuang sekuat mungkin, dan jangan pernah menyerah.

Dan pada akhirnya... saya sadar... saya sangat bisa hidup tanpa dia.

Padang, 31 Januari 2019

Sunday, December 8, 2019

Catatan Akhir Tahun 2019 (Kebahagiaan yang Bersifat Sementara)



2019 adalah tahun yang luar biasa. Tahun ini saya mengambil keputusan besar dengan resign dari perusahaan tempat saya pertama kali bekerja. Sebuah mimpi enam tahun lalu untuk bisa bekerja di luar negeri yang terwujud dan akhirnya saya buang begitu saja. Walaupun pada akhirnya saya tetap bekerja di perusahaan luar negeri.

Tanpa terasa  saya berada di 8 negara berbeda untuk tahun ini:

-Indonesia
-Philippines
-Turkey
-Serbia
-Thailand
-Laos
-India
-Vietnam

Saya ingat di 2010 waktu baru masuk SMA, ketika menonton film Sang Pemimpi adaptasi novel karya Andrea Hirata, ada seorang pelayar yang bercerita bahwa dia sudah pernah menginjakkan kaki di Jepang, terucap dalam hati "beruntung sekali orang ini sudah pernah lihat Jepang" Dan 7 tahun kemudian.. saya menginjakkan kaki di negeri sakura itu.

Kini ke luar negeri rasanya biasa saja. Pertama kali ke luar negeri itu ke Malaysia di 2015, saya mengitung tanggal di kalender, tidak sabar. Dan ketika menginjakkan kaki disana, kebahagiaan luar biasa yang saya rasakan. Tidak sampai menangis tapi hampir meneteskan air mata karna terharu. Dalam hati saya berujar "Sekarang saya ada di luar negeri" 

 Lalu apa pelajaran terbesar yang saya dapatkan?

Terlahir dari keluarga sederhana, banyak hal yang saya inginkan, yang saya harus perjuangkan sendiri. Saya suka berangan-angan dan juga berandai-andai.

Mungkin karna nasib baik saya hampir selalu mendapatkan banyak hal yang saya inginkan sejak dulu... 

Saya berpikir kalau saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan, pasti saya akan bahagia, ternyata saya salah...

Lalu kenapa ketika hidup saya berjalan baik, saya justru merasa tidak bahagia? Saya justru merasa depresi, frustrasi, dan bahkan ingin mati saja? Well.. bahkan saya sendiri tidak tau kenapa. Aneh bukan?

Dan itu memberikan saya sebuah pelajaran berharga. Bahwa kebahagiaan atas memiliki atau meraih sesuatu,  hanya bersifat sementara.

"Mendapatkan apa yang kita inginkan akan membuat kita bahagia, tapi kebahagiaan yang hakiki akan datang ketika kita bisa menerima keadaan disaat kita tidak punya apa-apa."

Terima kasih 2019.

2020 saya berjanji akan menjadi tahun yang lebih baik, dan dengan kepribadian saya yang juga akan lebih baik!

Sunday, July 21, 2019

Sebuah Filosofi Tentang Patah Hati



Sebuah kalimat yang terngiang-ngiang di pikiran saya. "Biasanya cinta pertama takkan berakhir bahagia" 
Betul juga, karna saya sendiri mengalaminya. Saya berpikir apakah ada orang yang jatuh cinta untuk pertama kalinya, lalu mendapatkan kesempatan untuk bersama hingga akhir hayat.

Saya rasa itu terlalu romantis. Tapi kenyataannya, hal romantis di generasi millennial hanya bisa ditemukan di platform digital. Maksud saya orang-orang merekayasa rasa cinta dan menguploadnya di media sosial.

Di tahun 2007, saya berusia sekitar 11 tahun kala itu. Usia yang normal untuk pubertas. Saya menyukai seseorang yang tidak bisa saya sebutkan namanya karna untuk generasi milliennial privasi sudah semakin luas jangkauannya. Salah sedikit bisa masuk penjara gara-gara pasal karet.

Tak perlu panjang-panjang saya ceritakan apa yang terjadi diantara 2007 dan 2019, lebih baik langsung ke klimaksnya saja, karna generasi millennial ini juga sangat tidak sabaran.  Buffering youtube saja bisa membuat mereka memaki-maki pemerintah.

Januari 2019, pulang dari Istanbul, saya membuat sebuah keputusan. Inilah klimaksya, kalau saya ditolak, saya tidak akan lagi menghubunginya, karna lelah sudah hampir belasan tahun memperjuangkan perasaan.

Dan, tentu saja. Sudah saya tebak endingnya adalah penolakan. Okelah, sudah saya ceritakan sampai klimaks tadi. Berakhir tulisan ini? Belum. Simak baik-baik dua paragraf terakhir ini, karna inilah sekuel dari klimaks yang tadi.

Dulu saya berpikir bahwa kebahagiaan saya bergantung padanya. Jika saya bersama dengan dia maka saya akan bahagia, jika tidak, hidup saya tidak akan pernah sempurna. Tapi kenyataannya, beberapa hari setelah penolakan itu saya baik-baik saja. Saya melanjutkan hidup, walau sesekali sedih juga mengingat itu.

Saya menjadi lebih fokus pada tujuan saya. Cinta-cintaan gombal ala millennial sudah jauh-jauh saya tinggalkan. Saya sudah menemukan tujuan hidup. Tujuan hidup itulah yang sekarang menjadi sumber kebahagiaan saya. Jangan mengharapkan kebahagiaan dari orang lain. Karna akan selalu ada waktunya kamu sendirian. Dan kamu hanya bersama dirimu sendiri. 

"Cinta suatu saat akan datang. Jika tidak pernah datang. Cinta bukanlah satu-satu elemen kehidupan. Jadi lupakanlah!"


Saturday, April 13, 2019

Bisa Tinggal di Luar Negeri Karena Teori Pareto

Sultan Ahmet, Istanbul

Adakah yang akan percaya bahwa alasan saya bisa tinggal di luar negeri hanya karena dulu sejak kelas 3 SMP saya memutuskan fokus menekuni bahasa Inggris? Wait-wait... Jadi kalau mau tinggal di luar negeri hanya perlu belajar bahasa Inggris?

Teori Pareto juga dikenal sebagai aturan 80-20, menyatakan bahwa untuk banyak kejadian, sekitar 80% daripada efeknya disebabkan oleh 20% dari penyebabnya. Prinsip ini diajukkan oleh pemikir manajemen bisnis Joseph M. Juran, yang menamakannya berdasarkan ekonom Italia: Vilfredo Pareto yang pada 1906 mengamati bahwa 80% dari pendapatan di Italia dimiliki oleh 20% dari jumlah populasi.

Dicopas dari : Sumber *karena malas ngetik, hehehe

Saya akan coba jelaskan secara sederhana hubungan antara saya tinggal di luar negeri dan belajar bahasa Inggris agar lebih mudah memahami teori Pareto.

Contohnya begini, ada 5 aktivitas yang saya lakukan untuk menghabiskan waktu ketika masa remaja:

1. Sekolah = 20 %
2. Bermain = 20 %
3. Sosialisasi / bergaul = 20%
4. Mengejar sang pujaan hati = 20%
5. Menekuni bahasa Inggris = 20%

Jadi saya menghabiskan 20% masa remaja saya untuk melatih kemampuan bahasa Inggris.

20% inilah yang memberikan dampak sekitar 80% dari keberhasilan  saya mengejar keinginan untuk tinggal diluar negeri.

Hitungan kasarnya begini, penyebab saya tinggal di luar negeri:

1. Bisa bahasa Inggris karena dulu menekuni bahasa Inggris = 80%
2. Lulus Kuliah = 10%
3. Aktif selama sekolah/kuliah = 10%

Saya tinggal di Istanbul karena dulu magang disini dan lanjut kerja di perusahaan yang sama.

Kenapa lulus kuliah dan aktif selama sekolah/kuliah jika ditotal poinnya hanya 20%? Alasannya sederhana. Karena kalau saya hanya lulus kuliah dan aktif selama kuliah maka kemungkinan saya diterima sama perusahaan tempat saya bekerja sekarang hanya 20% alias hampir tidak mungkin.

Lalu kenapa saya bisa bahasa inggris? Sederhana, karena sejak SMP kira2 umur 14 tahun sampai saya tinggal di luar negeri kira2 umur 21 tahun yang mana itu sekitar 7 tahun, saya mati-matian belajar bahasa Inggris, otodidak! (ditambah belajar dikelas).

Saya teringat kata-kata Steve Jobs, kita tidak bisa menghubungkan titik kedepan (kita tidak bisa mengatur masa depan kita) tapi kita bisa menghubungkan titik kebelakang (melihat masa lalu untuk mempelajari lagi penyebab kita berada di posisi saat ini).

Jika dulu saya memutuskan untuk malas-malasan atau berhenti menekuni bahasa Inggris, mungkin ketika saya kuliah, saya tidak akan memilih kuliah jurusan manajemen dengan pengantar bahasa Inggris, saya juga tidak mungkin dapat kesempatan kuliah satu semester ke Universiti Kebangsaan Malaysia karena jurusan saya waktu itu menunjuk utusan dari kelas berbahasa Inggris.

Alasan utama perusahaan menerima saya adalah karena mereka butuh orang Indonesia yang bisa bahasa Indonesia dan pernah tinggal di Malaysia atau sebaliknya karena target pasar perusahaan saya adalah kedua negara itu.

Saya ingin menyampaikan bahwa apapun hal positif yang kamu lakukan sekarang, jika kamu tidak merasakan manfaatnya dalam waktu dekat, jangan berhenti, karena bisa saja hal yang kelihatan sia-sia itulah yang akan membawamu pada keberhasilan mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Tuesday, April 9, 2019

Serbia dan Sebuah Perjalanan Spiritual

Kalemegdan


Serbia, sebuah negara balkan di Eropa Timur. Awalnya tujuan perjalanan ke Serbia hanya pelarian diri dari kejenuhan rutinitas sekaligus bertemu dengan kolega bisnis.

Hingga saya menginjakkan kaki disana, sentuhan magis itu mulai terasa. Ada sesuatu yang rasakan tapi tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Saya mulai berpikir bahwa ini adalah perjalanan spiritual.

Makna lama dari spiritual selalu berkaitan dengan agama. Tapi dewasa ini 'spiritual' menjadi korban pelebaran makna.

Spiritual bukan lagi hanya soal agama. Tapi bisa bermakna jiwa yang berlawanan dengan hal berbau material atau fisik.

Saya menelusuri jalan Belgrade, ibukota Serbia. Saya melihat sekeliling, sebuah peradaban yang sungguh berbeda dengan Asia Tenggara.

Gaya bangunan yang berbeda, manusia-manusia dengan postur tinggi dengan khas rambut kuning dan mata biru. Saya takjub.

Sampai saat ini saya hanyalah seorang introvert yang suka kehabisan energi ketika berada di keramaian. Bertahun-tahun menjadi pemalu dan hanya suka memerhatikan dari kejauhan.

Saya seringkali secara tidak sengaja membantah keyakinan saya sendiri dengan logika dasar bahwa jika saya A, maka saya bukan B.

Jika saya pemalu, maka saya tidak akan bisa dengan mudah berbicara dengan;
Orang baru,
Orang yang berbeda negara,
Orang yang berbeda bahasa,
Orang yang berbeda budaya.

Hingga saya berkenalan dengan Israel, seorang pria dari sebuah negara di benua Amerika bernama Kuba, yang berbahasa Spanyol dan memiliki perbedaan budaya signifikan dengan saya.

Dan Israel adalah teman dekat saya selama perjalanan di Serbia.

Butuh bertahun-tahun bagi bocah ini, untuk bertumbuh dan mendobrak stereotip tentang dirinya sendiri.

Di Serbia saya satu hostel dengan seorang gadis Belanda. Kami sempat berbincang mengenai masa lalu negara kami. Saya hanya bilang padanya bahwa kita tidak ada urusan dengan apapun yang terjadi antara Indonesia dan Belanda di masa lalu. Kami sepakat.

Pukul 1 pagi di Belgrade, gadis Belanda itu merasa bosan dan saya mengajaknya ke bar. Mengapa ke bar? karena saya baru saja balik dari sana menemani Israel yang menari salsa di bar itu, tarian khas Amerika Latin.

Saya pikir gadis Belanda itu akan menyukai-nya. Saya masuk ke bar dan saya membantah stereotip mayoritas.

Jika kamu ke bar, maka kamu akan minum alkohol. Tapi nyatanya saya tidak minum sama sekali.

Ke bar jelas bukan hobi saya. Saya hanya senang mengamati, mengapa keramaian ini begitu membuat orang senang. Bagi saya justru memuakkan.

Saya suka ketenangan. Saya suka tempat dimana saya bisa menyendiri. Saya tidak menikmati pesta dengan musik keras.

Di perjalanan pergi dan pulang ke bar. Saya berbincang dengan gadis Belanda itu. Kami sepakat bahwa dia adalah seorang extrovert, yang suka keramaian dan mendapat kejenuhan luar bisa apabila sendirian.

Saya pikir saya meyukainya. Saya harap bisa berjumpa lagi dengannya. Kini ia berkeliaran di Eropa sedangkan saya kembali ke Istanbul dan menyapa kembali rutinitas saya.

Bulan Juli mungkin dia kembali ke Belanda. Bulan Juli, mungkin saya akan menemui nya  lagi di Belanda.

Amsterdam.

Seorang pemuda berusia 23 tahun, berkelana ke benua eropa. Sendirian. Hal yang tak pernah ter-pikirkan bisa  ia lakukan jika melihat kembali ke masa lalu.

Perjalanan spiritual ini mengajarkan saya. Bukan apa-apa tapi waktu lah yang menjadikan seseorang. Saya merasa hidup.

-8 April 2019-

Tuesday, April 2, 2019

Ketulusan Hati Orang Serbia



Saya mengunjungi Serbia karena kebetulan bebas visa dan sangat dekat dari Istanbul, Turki tempat saya tinggal saat ini... 
Tidak seperti turis kebanyakan yang suka bikin rencana ketika traveling saya lebih suka random naik bus kemana2 dan sengaja tersesat hanya untuk melihat sekeliling.. 
Saya ingin bertanya kepada seorang wanita tua berambut putih yang duduk paling depan dimana perhentian bus terakhir.. “apakah kamu mengerti bahasa inggris?” 
Dia menjawab dengan bahasa serbia yang intinya dia bilang “tidak”. Kemudian saya kembali ke tempat duduk saya dan yang mengejutkan saya ketika Ibu ini mondar mandir dan bertanya kepada penumpang2 yang lain apakah ada yang bisa bahasa inggris. 
Karena hampir semua menjawab tidak. Ibu ini pun menghampiri saya dan meminta maaf karena tidak bisa membantu.. 
Ini sangat menyentuh hati saya karna saya terpaku pada stereotype bahwa orang eropa kebanyakan dingin, individual dan tidak begitu suka dengan orang asing. 
Inilah yang saya dapatkan traveling. Sebuah pembelajaran yang membuka wawasan dan merubah pola pikir. 
Perjalanan keluar negeri memiliki manfaat yang mungkin tidak kita sadari bahkan ketika tujuan kita hanya untuk foto2 dan posting di sosial media atau sekedar menghilangkan kebosanan

-Belgrade, 30 Maret 2019-

Monday, March 18, 2019

‘Intangible Money’ that we all unconciously have.



I am not talking about bank balance, cheques that you deposit, equity, accounts, etc. that most people will refer to about intangible money
I met a 27 years old guy who wanted to be able to speak english in short period of time. In order to achieve his goal he paid a lot money to hire an english teacher/tutor and sacrifice his time to learn english because he want some job which required him to be able to speak english fluently. Looking backward, when i was a high school student. I don’t have things like interview or any urgency. So i was learning english with no pressure. It was 9 years ago even until now i am still learning. I am not saying my english is good but i can speak fluently and have no any difficulties to speak english with anyone. Imagine if 9 years ago i keep postponing maybe i will be in the situation like the guy that i need to pay such amount of money but instead i learn english for 9 years for free because i learned by myself. The amount of money that the guy spent to study english in short period of time is the amount of money that i don’t need to spend. I cannot use this intangible money. But this make me feel grateful and realise that in this life sometime we forget that we already rich.

Sunday, February 3, 2019

Catatan Akhir Tahun 2018 (Kehilangan Masa Muda)



Sedikit terlambat bagi saya untuk mengupload artikel ini karena 2019 sudah menyelesaikan bab I nya, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. 2018 memberikan pelajaran luar biasa bagi saya. Bukan tahun terbaik tapi tahun yang benar-benar membuka mata saya.


1. Kebahagiaan yang Sesungguhnya

Semua orang pasti ingin mendapatkan kebahagiaan, dan siapa yang tidak ingin setiap hari selalu bahagia? Sayangnya saya menemukan fakta yang mungkin mengerikan bagi kita. Bahwa tidak akan ada orang yang hidupnya akan selalu bahagia setiap saat. Hidup adalah kombinasi dari masalah dan solusi. Setiap saat akan selalu ada masalah, tapi kabar baiknya masalah diciptakan bersamaan dengan solusi. Kebahagiaan yang sesungguhnya bukan hidup tanpa masalah, tapi bisa menyelesaikan masalah itu sendiri akan memberikan kebahagiaan.


2. Zona Nyaman yang Menakutkan


Tahun ini saya menemukan kelemahan terbesar saya. Kelemahan itu bernama ketakutan.Saya selalu takut akan sesuatu yang belum terjadi. Saya terlalu takut untuk keluar dari zona nyaman saya. Untungnya saya menyadari bahwa yang harusnya saya takutkan bukanlah keluar dari zona nyaman, tapi yang harus saya takutkan adalah ketakutan untuk keluar dari zona nyaman itu sendiri. 2019 saya harus lebih berani mengambil keputusan. Tidak usah mencemaskan apa-apa yang belum terjadi.


3. Kehilangan Masa Muda


Highlight atau best moment saya di tahun 2018 mungkin adalah ketika perusahaan mempromosikan saya sebagai asisten manajer. Bekerja di perusahaan luar negeri dan mendapat promosi di tahun kedua. Wah! Hebat ya? Tidak, tidak hebat, tapi menyedihkan. Dibalik itu semua terdapat perjuangan yang luar biasa dan kehidupan yang penuh dengan stress, dan saya melupakan esensi dari kehidupan itu sendiri. Kebahagiaan. Fakta bahwa saya masih muda, harusnya saya menggunakan waktu ini tidak hanya untuk karir tapi juga menikmati hidup. Jujur 2018 adalah tahun terburuk dalam hidup saya, tahun yang sangat saya benci dan ingin saya lupakan. Banyak motivator mengatakan gunakanlah masa mudamu untuk bekerja keras dan investasi, untuk kawan-kawan yang setuju, silahkan ikuti saja. Tapi untuk saya tidak! Masa muda harusnya digunakan untuk belajar, jangan takut untuk salah, asalkan kita belajar dari kesalahan itu hidup kita sudah diarah yang baik. Saya percaya bahwa kesuksesan itu bukanlah hasil tapi proses, bagi saya lebih baik menikmati proses daripada mendewakan hasil!


Khusus untuk teman-teman yang satu generasi dengan saya, saya berpesan, belajarlah setiap hari dan jangan pernah cepat puas. Tapi jangan lupakan masa mudamu, di hari tua nanti yang akan kamu ceritakan pada anak cucumu bukan seberapa banyak uang yang kamu dapatkan, tapi tentang petualanganmu yang banyak memberikanmu pelajaran, let's be young forever!


Rizki Muhadi

Saturday, May 5, 2018

I don't think i will need it in the future!

7 years ago, back in senior high school, we learned Japanese as one of extra subject and it was compulsory. At the moment i was thinking why should i study Japanese? i don't think i will need it in the future. Then i did not take the subject seriously even though i passed it. 6 years later (as university student), i got interested in Japan and i had the chance to go there. Before i went there i took Japanese course and paid the course with my pocket money. Several months later i had interview with Japanese Company and i got rejected because my Japanese Language skill was so limited. 

Imagine if 7 years ago i decided to take those Japanese Language subject seriously, 7 years is more than enough to master foreign language!

Sometime we have chance to do or learn new things, but we avoid it because we cannot see the short terms benefit from that. Now i realize everytime i have chance, i should learn because we never know what the future is holding for us and we should have long term vision. No pain, no gain!

Thursday, February 22, 2018

Coretan Tangan Bagian 2 (Cinta Beda Negara)

Kata orang perbedaan itu indah, saya rasa tidak selamanya indah juga...

Pas lagi buka youtube saya nemu di timeline ada video yang membahas tentang pernikahan beda negara, seorang wanita indonesia menikah dengan laki2 Selandia Baru.

Tiba2 juga saya jadi tertarik buat memberi opini tentang pernikahan ini.

Buat saya tidak ada yang istimewa dari pernikahan ini. Karena bagi saya ras, suku, negara dan apapun itu pada dasarnya kita ini sama2 manusia. jadi kalau menikah ya wajar2 saja.

Tapi jika dipikir2, pernikahan beda negara pasti memiliki beberapa keseruan. Dua orang dengan adat dan bahasa yang benar2 berbeda kemudian akan hidup bersama. Mencoba memahami satu sama lain.

Meskipun hakikat manusia itu sama, tapi pasti masing2 negara punya kebudayaan yang tidak dimiliki oleh negara lain. Itulah yang menurut saya menjadikan pernikahan beda negara itu menjadi unik dan menyenangkan.

Saya sudah bertemu dengan gadis dari berbagai belahan dunia dan saya mengamati bahwa pada hakikatnya wanita itu dari negara manapun sifat alami nya ya sama saja.

Pernikahan beda negara... saya tidak pernah menargetkan untuk melakukan ini.. tapi jika itu suatu saat terjadi dalam hidup saya.. mungkin saya hanya akan menikmatinya..

Wednesday, February 21, 2018

Coretan Tangan Bagian I (Jadi Sales)

Dulu pas mau tamat SMA saya sudah mantap mau jadi pengacara, eh taunya saya nggak lolos fakultas hukum, dapatnya di pilihan kedua di manajemen, tiba2 muncul ketertarikan di kosentrasi marketing. 

waktu saya masih aktif di AIESEC saya pernah bekerja untuk department sales nya AIESEC, saya sempat berpikir kenapa saya begitu menikmati role saya walaupun tugas nya cukup melelahkan karena harus mobile? pernah juga kepikiran, apa mungkin pekerjaan yang cocok bagi saya adalah sales? 

sekarang sudah masuk bulan keenam saya di departemen sales nya salah satu perusahaan Turki, saya bertugas untuk melakukan sales ke berbagai negara di asia tenggara. karena kantor kami di Istanbul mau tidak mau saya selling nya lewat telemarketing. 

Jujur saya lebih suka direct selling karena langsung ketemu dengan leadsnya, tapi telemarketing ada tantangan tersendiri. apalagi produk yang saya coba pasarkan satu unitnya minimal kisaran 800jutaan bahkan bisa sampai milyaran. tidak mudah memang, setidaknya saya jadi banyak belajar tentang international trading, punya banyak koneksi gara2 b2b. 

lalu apakah saya memang ditakdirkan untuk menjadi seorang sales? ah jalan saya masih panjang, 3 hari lagi umur saya genap 22 tahun. kepikiran juga mau lanjut S2... lihat teman sebaya sudah menikah dan punya anak jadi kepikiran juga... tapi saya yakin setiap orang punya jalannya masing2.. kemanapun nanti arah angin akan membawa saya, saya hanya akan melakukan yang terbaik.

Friday, February 16, 2018

Terbit dan Tenggelam














“Setelah matahari terbenam, akan ada matahari terbit”

Hal terbaik dari perbincangan dengan orang yang lebih tua adalah mendapat pencerahan berdasarkan pengalaman yang nyata..

Sebuah percakapan dengan salah satu teman dari rusia. Beberapa tahun lebih tua dan dia pernah tinggal di Amerika Serikat.

Berbicara mengenai masa-masa sulit dalam hidupnya dan apa yang ia sampaikan adalah jangan biarkan keadaan melemparmu keluar dari arena pertandingan, tetap berjuang, tetap berjuang dan jangan menyerah.

Semua kesulitan dalam hidup, akan memberikan kita pelajaran. Kesulitan dalam hidup jugalah yang nantinya bisa membuat kita menjadi orang yang besar.

Orang yang hebat adalah orang yang terjatuh berkali-kali dan bangkit dalam setiap keterpurukan.
Akhir-akhir ini saya mengalami hari yang cukup sulit.. tak perlu saya jelaskan ada apa tapi cukup buat memberi saya beban pikiran.

Setiap orang pernah mengalami masa-masa berat dalam hidupnya.

Jika kita berharap semua berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan.. kita akan kecewa pada akhirnya..

Untuk siapapun yang saat ini sedang mengalami masa sulit.. semua nya pasti akan berlalu. Hanya masalah waktu. Bersabar saja.

Jika kita bisa melalui masa-masa sulit di hari kemaren, kita juga bisa melaluinya hari ini.

Waktu, semua hanya masalah waktu. Kuncinya ya bersabar.. 

Tuesday, February 6, 2018

SALAH

Seiring berjalannya waktu saya mulai menyadari bahwa saya sering melakukan kesalahan di masa lalu,

Saya berpikir kenapa saya melakukan kesalahan itu

Semakin saya berpikir jauh.. semakin saya membenci diri sendiri…

tapi membenci diri sendiri pun bukan hal baik

jika saya melakukannya tidak ada gunanya introspeksi diri

jadi saya putuskan untuk membenci sifat2 dan prilaku buruk itu

untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama di masa depan

atau setidaknya berusaha sekuat tenaga untuk menghindari kesalahan berulang

saya juga benci beberapa orang

tapi membenci orang lain hanya akan membawa penyakit hati

saya putuskan untuk hanya membenci sifat orang itu saja

agar saya tidak memiliki sifat yang sama dengannya

 ah.. melihat kebelakang..

saya pernah salah.. tapi saya senang karena saya menyesalinya..

menyesali kesalahan di masa lalu menandakan kita bertumbuh

jika kau tak miliki kesalahan di masa lalu untuk kau sesali..

mungkin ada sesuatu yang salah di hidupmu..

jika kau tak merasa malu dengan postinganmu di sosial media beberapa tahun lalu

mungkin antara hidupmu tidak asik atau kau tak pernah berubah jadi lebih baik

Friday, December 29, 2017

Catatan Akhir Tahun 2017 (Tersesat di Konstantinopel)

Tak terasa kita sudah sampai di penghunjung tahun. Saya menjuluki tahun 2017 sebagai tahun ‘The Flash’. Julukan ini dikarenakan bagi saya 2017 sangat cepat berlalu.
Ada tiga event penting bagi saya yang terjadi di 2017.

Yang Pertama, (Menginjak tanah si mantan penjajah)
Januari-April

Di tahun ini saya pertama kali menginjakkan kaki di negara yang sangat saya kagumi yaitu Jepang. Namun yang akan saya ceritakan bukan soal keseruan selama berada di Jepang. Tapi makna dalam perjalanan meraih mimpi. Kembali ke tahun-tahun sebelumnya ketika saya masih begitu polos. Saya menulis mimpi-mimpi itu diatas kertas. Apakah saya percaya bahwa mimpi itu akan terwujud? Tidak. Tapi saya tetap menulis mimpi, toh tidak akan ada yang terluka jika saya menulis. Tapi hal itu terwujud. Kenapa? Bukan karena saya orang hebat ataupun spesial, tapi dorongan mimpi itu begitu kuat memaksa saya mencari jalan.

“Tidak ada mimpi yang mustahil, jika itu realistis.. mungkin akan sulit, tapi itu mungkin terjadi”

Yang Kedua, (Keluar dari sarang buaya)
Mei-Agustus

Di tahun ini pula saya resmi menjadi sarjana ekonomi. Hal yang paling membuat saya terharu adalah ketika ayah saya diminta fakultas untuk menjadi perwakilan orang tua mahasiswa memberikan kata sambutan. Bagi sebagian orang mungkin ini hanya hal sepele, tapi bagi saya ini adalah cara saya memuliakan orang tua saya. Sebagai anak, saya sadar bahwa saya masih sangat jauh dari kata sempurna. Tapi wisuda dengan hasil yang memuaskan, adalah cara saya membayar hutang saya kepada orang tua yang sudah susah payah menyekolahkan saya. Semoga saya bisa membalas jasa orang tua, walaupun saya tau itu tidak mungkin karna jasa orang tua terlalu besar dalam hidup kita.

“Wisuda bukan hanya soal mendapat ijazah, tapi salah satu cara menghargai perjuangan orang tua”

Yang Ketiga, (Tersesat di Konstantinopel)
September-Desember

Apakah ini momen terbaik? Apakah ini yang paling membuat saya bahagia? Tidak. Turki adalah negara yang indah dengan penduduknya yang rupawan dan ramah. Tidak ada kesan negatif terhadap negara dengan lambang bulan sabit dan bintang ini. Saya sudah menyusun rencana yang begitu matang sebelumnya, tapi mungkin Tuhan punya rencana lain. DikirimNya saya ke bekas ibukota kekaisaran romawi timur. Satu-satunya hal yang saya pikirkan adalah belajar sebanyak mungkin disini.

“Roda nasib kadang tidak jelas arah putarnya kemana, tapi jadilah yang terbaik.. mungkin suatu saat kita bisa mengatur arahnya”

Kesimpulan :
2017 adalah tahun yang cukup ramah, tapi dibalik setiap keramahan itu sebenarnya tersirat perjuangan yang cukup sulit. Saya harap 2018 menjadi tahun yang lebih baik lagi. Saya tidak berharap bahwa 2018 akan outstanding, tapi yang pasti saya ingin menjadi lebih baik dari tahun 2017.


Bukan seberapa besar perubahan yang kau dapat, tapi seberapa konsisten, walau itu hanya perubahan-perubahan kecil.

Monday, December 25, 2017

Tentang Harapan dan Kenyataan

Pernahkah kau berjalan sendirian ke tempat yang ingin kau tuju, kehilangan arah.. memegang peta yang tak berguna.. ingin kembali tapi tak tahu jalan pulang.. terlalu bodoh membaca peta

Lalu kau putuskan untuk teruskan perjalanan.. tapi diperjalanan bertemu kerikil yang tak sengaja terinjak, melukai telapak kakimu.. kau pun mengumpat.. tapi kerikil hanya diam seolah tak peduli..

Kau lanjutkan perjalanan dengan menahan rasa sakit di kakimu.. tapi kau masih percaya bahwa kau akan sampai pada tujuanmu..

Tapi rasanya semakin sulit.. karna jalan itu tiba-tiba semakin terjal.. kau putuskan untuk terus berjalan dengan nafas terengah-engah.. kau berpikir kalau ini tidak akan mungkin..

Kau berhenti sejenak.. lihat matahari mulai menutup diri.. tersadar bahwa waktumu tidak banyak.. kau paksakan kakimu yang seolah menjerit karna tidak sanggup lagi menahan bebanmu..

Kau akhirnya sampai.. kau terkejut karna ini sangat berbeda.. tersadar bahwa ini bukan tempat yang kau tuju

Kau pun menemukan rumah tua, cat dan kanvas berada di dalamnya.. kau pun ingin segera melukis, tapi tak menemukan kuas di sekeliling rumah..

Kau melukis dengan jari jemarimu.. tercipta sebuah lukisan indah.. kau pun tersenyum..


Kekecewaanmu sirna, meski tak sampai di tujuan.. jalan yang sulit itu menyadarkanmu bahwa.. kebahagiaan itu diciptakan.. bukan dicari…

Wednesday, December 31, 2014

Catatan Akhir Tahun '2014'

Saat menulis tulisan ini, kurang dari 2 jam akan kedatangan tahun 2015.

Tapi sayangnya kita menutup tahun dengan berita yang menyedihkan. Saudara-saudara kita meninggalkan kita untuk selamanya dalam kecelakaan pesawat Air Asia QZ5801. Sungguh hal yang tidak pernah kita inginkan terjadi di tahun 2014 ini. #RIP

Kita tentu ikut merasakan duka mendalam buat mereka yang ditinggal pergi oleh saudara-saudaranya dalam kecelakaan tersbut. Alangkah baiknya jika kita menunjukkan rasa simpati kepada saudara kita tersebut dengan tidak merayakan malam pergantian tahun secara berlebihan.

Tapi pada dasarnya semua kita pasti akan mati. Hanya saja, mungkin waktu dan caranya saja yang berbeda. Kita yang masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan sampai saat ini haruslah mensyukuri akan nikmatnya dengan menjalani kehidupan sebaik-baiknya.

Selamat tinggal 2014. Mungkin itulah yang dikatakan oleh kebanyakan orang di malam pergantian tahun ini. 

Waktu berlalu begitu cepat. Masih ingatkah kita akan resolusi yang kita buat di tahun 2014? Apakah semua nya sudah terlaksana dengan baik? atau ada yang belum kita wujudkan di tahun 2014?

Kita bersiap menyambut 2015. Di tahun yang baru kita harus menjadi orang yang lebih baik lagi.

Kita pasti sudah punya resolusi sendiri serta harapan-harapan yang akan kita wujudkan di tahun 2015 nanti.

Hal yang terpenting di tahun 2015 nanti adalah kita harus bisa menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. 

Beberapa hal yang sebaiknya menjadi resolusi kita :


a) di tahun 2015 kita harus bisa mewujudkan apa yang tidak bisa kita wujudkan di tahun 2014

b) apapun yang telah kita capai di tahun 2014 harus kita pertahankan dan bahkan kalau bisa kita tingkatkan lebih baik lagi

c) Kita tidak perlu menjadi orang baru, orang hebat atau target yang muluk-muluk. Cukup targetkan kita menjadi orang yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Perubahan kecil tapi berkelanjutan jauh lebih baik daripada perubahan besar tapi hanya sekali saja. 

Selamat Tahun Baru 2015! Semoga tahun 2015 lebih baik dari tahun sebelumnya ! :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...