Showing posts with label Travelling. Show all posts
Showing posts with label Travelling. Show all posts
Sunday, December 8, 2019
Catatan Akhir Tahun 2019 (Kebahagiaan yang Bersifat Sementara)
2019 adalah tahun yang luar biasa. Tahun ini saya mengambil keputusan besar dengan resign dari perusahaan tempat saya pertama kali bekerja. Sebuah mimpi enam tahun lalu untuk bisa bekerja di luar negeri yang terwujud dan akhirnya saya buang begitu saja. Walaupun pada akhirnya saya tetap bekerja di perusahaan luar negeri.
Tanpa terasa saya berada di 8 negara berbeda untuk tahun ini:
-Indonesia
-Philippines
-Turkey
-Serbia
-Thailand
-Laos
-India
-Vietnam
Saya ingat di 2010 waktu baru masuk SMA, ketika menonton film Sang Pemimpi adaptasi novel karya Andrea Hirata, ada seorang pelayar yang bercerita bahwa dia sudah pernah menginjakkan kaki di Jepang, terucap dalam hati "beruntung sekali orang ini sudah pernah lihat Jepang" Dan 7 tahun kemudian.. saya menginjakkan kaki di negeri sakura itu.
Kini ke luar negeri rasanya biasa saja. Pertama kali ke luar negeri itu ke Malaysia di 2015, saya mengitung tanggal di kalender, tidak sabar. Dan ketika menginjakkan kaki disana, kebahagiaan luar biasa yang saya rasakan. Tidak sampai menangis tapi hampir meneteskan air mata karna terharu. Dalam hati saya berujar "Sekarang saya ada di luar negeri"
Lalu apa pelajaran terbesar yang saya dapatkan?
Terlahir dari keluarga sederhana, banyak hal yang saya inginkan, yang saya harus perjuangkan sendiri. Saya suka berangan-angan dan juga berandai-andai.
Mungkin karna nasib baik saya hampir selalu mendapatkan banyak hal yang saya inginkan sejak dulu...
Saya berpikir kalau saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan, pasti saya akan bahagia, ternyata saya salah...
Lalu kenapa ketika hidup saya berjalan baik, saya justru merasa tidak bahagia? Saya justru merasa depresi, frustrasi, dan bahkan ingin mati saja? Well.. bahkan saya sendiri tidak tau kenapa. Aneh bukan?
Dan itu memberikan saya sebuah pelajaran berharga. Bahwa kebahagiaan atas memiliki atau meraih sesuatu, hanya bersifat sementara.
"Mendapatkan apa yang kita inginkan akan membuat kita bahagia, tapi kebahagiaan yang hakiki akan datang ketika kita bisa menerima keadaan disaat kita tidak punya apa-apa."
Terima kasih 2019.
2020 saya berjanji akan menjadi tahun yang lebih baik, dan dengan kepribadian saya yang juga akan lebih baik!
Friday, August 16, 2019
Catatan Sebuah Paspor (Ke Malaysia aja dulu!)
Kalau ada teman yang ingin traveling ke luar negeri untuk pertama kalinya dan minta rekomendasi ke saya. Maka saya akan bilang "Ke Malaysia aja!"
Inilah kenapa...
Akhir tahun 2014 ketua jurusan memanggil saya ke ruangan beliau. Jurusan kami kebetulan ada kerja sama dengan salah satu universitas negeri top di Malaysia, saya dan teman saya ditawari untuk mencoba kuliah disana dalam program pertukaran.
Sempat ragu akhirnya saya memutuskan untuk ikut program itu. Saya ke Malaysia bulan Februari, dan untuk pertama kalinya akan merayakan ulang tahun di luar negeri tepat di bulan itu. Di umur 19 tahun.
Pengalaman pertama ke luar negeri, bukan untuk travelling tapi untuk tinggal disana. Karna di keluarga saya juga belum ada yang pernah ke luar negeri saya harus putar otak sendiri.
Pertama urusan paspor, saking ngebetnya waktu itu saya sempat bayar calo 1,2 juta (waktu itu saya gak tau biaya paspor berapa) supaya paspor cepat selesai.
Karna saking polosnya, dengan berbekal info Malaysia bebas visa, saya pun berangkat kesana tanpa visa student. Waktu itu saya tidak tau kalau visa itu berbeda2 tergantung tujuannya.
Akhirnya saya pun ditahan di imigrasi. Saya bawa semua dokumen lengkap, tapi kebayang kan kalau kita bilang disana mau kuliah tapi pakai visa turis. Tapi saking polosnya saya pede2 aja kesana sampai ke imigrasi.
Akhirnya setelah debat panjang saya pun diizinkan masuk Malaysia dengan catatan harus segera balik ke Indo untuk urus visa student.
Setelah saya tau biaya paspor itu murah, saya mulai kepikiran. Ini saya bayar hampir 4 kali lipat tapi palingan paspor ini cuma bakal dipake buat ke Malaysia sekali ini doang.
Ternyata Tuhan berkata lain, saya sempat berkunjung ke negara tetangga, Singapura di tahun yang sama. Lalu di 2017 saya dapat kesempatan pertukaran pelajar lagi ke Jepang lalu lagi2 di tahun yang sama saya ke Turki untuk magang sampai akhirnya kerja disana. Di awal tahun 2019 saya ke Philippines untuk business trip dan ditutup dengan ke Serbia di bulan Maret tahun ini.
Saya bahkan nyaris ke Jerman di 2018 kalau aja visa saya gak ditolak, dan nyeseknya dari semua karyawan saya doang yang visa nya ditolak gara2 ada satu dokumen gak ke submit, dan gak ada waktu untuk re-apply, gagal deh ikut pameran di Jerman, tapi ya udahlah. Mungkin lain kali.
Juni 2019 saya memutuskan kembali ke Indonesia dan melanjutkan petualangan di Indonesia. Tidak kerasan di negeri sendiri, saya pun berangkat ke Thailand. Ditawari kerjaan dan minggu depan saya akan ke Laos dan lanjut ke India minggu berikutnya untuk urusan kerja. Tiket udah dibooking, moga2 lancar seperti biasanya.
Tentang India lumayan menarik sih, saya pernah bilang ke teman, kalau di dunia ini ada 200 negara, maka India akan jadi negara ke 200 yang akan saya kunjungi, karna saya gak tertarik kesana. Tapi karna ada urusan ya akhirnya India akan jadi negara ke 9 yang saya kunjungi
Travelling ke beberapa negara, jangan kira saya anak orang kaya. Sebagai gambaran, kalau saya bilang ke ortu mau jalan2 ke Malaysia, paling disuruh coret nama dari KK. Orang tua saya cuma guru dengan peghasilan pas2an dan punya tanggungan lumayan banyak.
Selama ini saya keluar negeri kalau gak beasiswa, ikut program pemerintah, atau dibiayai perusahaan karna saya kebetulan kerjaannya marketing (skala international). Tapi jangan liat enaknya aja. Dibalik ini semua, selain keberuntungan, saya juga berjuang habis2an untuk bisa dapat kesempatan ini. Saya si pemalas yang tidak suka malas2an kalau pengen sesuatu.
Dari beberapa negara yang saya kunjungi, Malaysia adalah yang paling berkesan, paling membuat saya bahagia, padahal negara paling terdekat, waktu saya ke Turki ama Jepang benar2 rasanya flat alias biasa aja. Pengalaman pertama memang selalu berkesan.
So, buat yang pengen ke luar negeri, tapi gak ada duit, jangan khawatir, niatin aja dulu, nanti pasti ada jalan! Trus kalau bingung mau kemana, saran saya "Ke Malaysia aja dulu!"
*Tulisan ini saya tujukan untuk yang belum pernah keluar negeri. Saya dulu juga kepikiran bisa apa enggak suatu saat ke luar negeri, dan ternyata bisa! Pertanyaannya cuma satu, mau usaha gak?
Sunday, August 11, 2019
Thailand Paranormal Experience
Saya cuma mau berbagi aja hal yang saya alami beberapa hari lalu di Thailand, tepatnya di bangkok.
Sebagai orang yang suka science, saya selalu skeptical kalau ada yang bicara tentang pengalaman mistis, karna saya tidak percaya dengan hal2 berbau hantu dan sejenis2nya
sampai akhirnya saya menginap di rumah teman saya di bangkok, kebetulan dia orang thailand asli, dia bilang ke saya kalau rumahnya sudah tua, rumah warisan turun temurun. lalu dia bilang, kalau nanti liat sesuatu di kamar jangan panik dan gedor2 pintu saya. soalnya orang yang nginap di rumah saya biasanya mengalami hal itu.
lalu saya bilang, saya tidak percaya dengan hal begituan. trus dia bilang ya gak apa2 terserah kamu. dia sendiri bilang kalau dia tidak pernah mengalami hal mistis itu, dia bilang mungkin karna dia pemilik rumah.
keesokan harinya, ketika saya lagi tidur siang, ada bapak2 kira2 umur 50an cuma pake celana pendek doang, buka pintu kamar trus ngeliat ke arah saya dengan wajah penasaran. perlahan2 dia datang ke arah saya trus pas udah dekat dia lambaikan tangan seolah2 mau bilang halo, saya bangkit dari tempat tidur sambil balas melambaikan tangan. kemudian dia keluar dari kamar.
sorenya saya tanya ke teman saya, bapak2 itu siapa, trus dia bilang, di rumah dia laki2 cuma dia aja. dan itu memang betul karna saya gak pernah liat ada bapak2 di rumah dia sebelum kejadian itu. di rumahnya cuma ada istri, anaknya yang masih kecil, sama mertuanya trus ada ART dua orang cewek
trus dia bilang, kamu masih mending cuma disapa, waktu mertua saya tidur di kamar yang kamu tempatin, dia ngeliat ada dua cewek berpakaian tradisional thailand nari2 di depan dia.. abis itu dia gak mau lagi tidur di kamar itu.
trus saudara dari mantan ART dia pernah tidur di lantai bawah, dia liat anak2 lagi main trus kaki dia ditarik sampai jatuh.
trus akhirnya saya pindah dari rumah dia. disini saya cuma mau sharing, percaya gak percaya itu urusan masing2, tapi hikmah yang diambil, kalau pergi ke suatu negara, dan orang lokal ngasih tau tentang hal mistis, jangan sesumbar kayak saya, bilang kalau saya gak percaya. hormati kepercayaan lokal.
Saturday, April 13, 2019
Bisa Tinggal di Luar Negeri Karena Teori Pareto
![]() |
| Sultan Ahmet, Istanbul |
Adakah yang akan percaya bahwa alasan saya bisa tinggal di luar negeri hanya karena dulu sejak kelas 3 SMP saya memutuskan fokus menekuni bahasa Inggris? Wait-wait... Jadi kalau mau tinggal di luar negeri hanya perlu belajar bahasa Inggris?
Teori Pareto juga dikenal sebagai aturan 80-20, menyatakan bahwa untuk banyak kejadian, sekitar 80% daripada efeknya disebabkan oleh 20% dari penyebabnya. Prinsip ini diajukkan oleh pemikir manajemen bisnis Joseph M. Juran, yang menamakannya berdasarkan ekonom Italia: Vilfredo Pareto yang pada 1906 mengamati bahwa 80% dari pendapatan di Italia dimiliki oleh 20% dari jumlah populasi.
Saya akan coba jelaskan secara sederhana hubungan antara saya tinggal di luar negeri dan belajar bahasa Inggris agar lebih mudah memahami teori Pareto.
Contohnya begini, ada 5 aktivitas yang saya lakukan untuk menghabiskan waktu ketika masa remaja:
1. Sekolah = 20 %
2. Bermain = 20 %
3. Sosialisasi / bergaul = 20%
4. Mengejar sang pujaan hati = 20%
5. Menekuni bahasa Inggris = 20%
Jadi saya menghabiskan 20% masa remaja saya untuk melatih kemampuan bahasa Inggris.
20% inilah yang memberikan dampak sekitar 80% dari keberhasilan saya mengejar keinginan untuk tinggal diluar negeri.
Hitungan kasarnya begini, penyebab saya tinggal di luar negeri:
1. Bisa bahasa Inggris karena dulu menekuni bahasa Inggris = 80%
2. Lulus Kuliah = 10%
3. Aktif selama sekolah/kuliah = 10%
Saya tinggal di Istanbul karena dulu magang disini dan lanjut kerja di perusahaan yang sama.
Kenapa lulus kuliah dan aktif selama sekolah/kuliah jika ditotal poinnya hanya 20%? Alasannya sederhana. Karena kalau saya hanya lulus kuliah dan aktif selama kuliah maka kemungkinan saya diterima sama perusahaan tempat saya bekerja sekarang hanya 20% alias hampir tidak mungkin.
Lalu kenapa saya bisa bahasa inggris? Sederhana, karena sejak SMP kira2 umur 14 tahun sampai saya tinggal di luar negeri kira2 umur 21 tahun yang mana itu sekitar 7 tahun, saya mati-matian belajar bahasa Inggris, otodidak! (ditambah belajar dikelas).
Saya teringat kata-kata Steve Jobs, kita tidak bisa menghubungkan titik kedepan (kita tidak bisa mengatur masa depan kita) tapi kita bisa menghubungkan titik kebelakang (melihat masa lalu untuk mempelajari lagi penyebab kita berada di posisi saat ini).
Jika dulu saya memutuskan untuk malas-malasan atau berhenti menekuni bahasa Inggris, mungkin ketika saya kuliah, saya tidak akan memilih kuliah jurusan manajemen dengan pengantar bahasa Inggris, saya juga tidak mungkin dapat kesempatan kuliah satu semester ke Universiti Kebangsaan Malaysia karena jurusan saya waktu itu menunjuk utusan dari kelas berbahasa Inggris.
Alasan utama perusahaan menerima saya adalah karena mereka butuh orang Indonesia yang bisa bahasa Indonesia dan pernah tinggal di Malaysia atau sebaliknya karena target pasar perusahaan saya adalah kedua negara itu.
Saya ingin menyampaikan bahwa apapun hal positif yang kamu lakukan sekarang, jika kamu tidak merasakan manfaatnya dalam waktu dekat, jangan berhenti, karena bisa saja hal yang kelihatan sia-sia itulah yang akan membawamu pada keberhasilan mendapatkan apa yang kamu inginkan.
Tuesday, April 9, 2019
Serbia dan Sebuah Perjalanan Spiritual
![]() |
| Kalemegdan |
Serbia, sebuah negara balkan di Eropa Timur. Awalnya tujuan perjalanan ke Serbia hanya pelarian diri dari kejenuhan rutinitas sekaligus bertemu dengan kolega bisnis.
Hingga saya menginjakkan kaki disana, sentuhan magis itu mulai terasa. Ada sesuatu yang rasakan tapi tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Saya mulai berpikir bahwa ini adalah perjalanan spiritual.
Makna lama dari spiritual selalu berkaitan dengan agama. Tapi dewasa ini 'spiritual' menjadi korban pelebaran makna.
Spiritual bukan lagi hanya soal agama. Tapi bisa bermakna jiwa yang berlawanan dengan hal berbau material atau fisik.
Saya menelusuri jalan Belgrade, ibukota Serbia. Saya melihat sekeliling, sebuah peradaban yang sungguh berbeda dengan Asia Tenggara.
Gaya bangunan yang berbeda, manusia-manusia dengan postur tinggi dengan khas rambut kuning dan mata biru. Saya takjub.
Sampai saat ini saya hanyalah seorang introvert yang suka kehabisan energi ketika berada di keramaian. Bertahun-tahun menjadi pemalu dan hanya suka memerhatikan dari kejauhan.
Saya seringkali secara tidak sengaja membantah keyakinan saya sendiri dengan logika dasar bahwa jika saya A, maka saya bukan B.
Jika saya pemalu, maka saya tidak akan bisa dengan mudah berbicara dengan;
Orang baru,
Orang yang berbeda negara,
Orang yang berbeda bahasa,
Orang yang berbeda budaya.
Hingga saya berkenalan dengan Israel, seorang pria dari sebuah negara di benua Amerika bernama Kuba, yang berbahasa Spanyol dan memiliki perbedaan budaya signifikan dengan saya.
Dan Israel adalah teman dekat saya selama perjalanan di Serbia.
Butuh bertahun-tahun bagi bocah ini, untuk bertumbuh dan mendobrak stereotip tentang dirinya sendiri.
Di Serbia saya satu hostel dengan seorang gadis Belanda. Kami sempat berbincang mengenai masa lalu negara kami. Saya hanya bilang padanya bahwa kita tidak ada urusan dengan apapun yang terjadi antara Indonesia dan Belanda di masa lalu. Kami sepakat.
Pukul 1 pagi di Belgrade, gadis Belanda itu merasa bosan dan saya mengajaknya ke bar. Mengapa ke bar? karena saya baru saja balik dari sana menemani Israel yang menari salsa di bar itu, tarian khas Amerika Latin.
Saya pikir gadis Belanda itu akan menyukai-nya. Saya masuk ke bar dan saya membantah stereotip mayoritas.
Jika kamu ke bar, maka kamu akan minum alkohol. Tapi nyatanya saya tidak minum sama sekali.
Ke bar jelas bukan hobi saya. Saya hanya senang mengamati, mengapa keramaian ini begitu membuat orang senang. Bagi saya justru memuakkan.
Saya suka ketenangan. Saya suka tempat dimana saya bisa menyendiri. Saya tidak menikmati pesta dengan musik keras.
Di perjalanan pergi dan pulang ke bar. Saya berbincang dengan gadis Belanda itu. Kami sepakat bahwa dia adalah seorang extrovert, yang suka keramaian dan mendapat kejenuhan luar bisa apabila sendirian.
Saya pikir saya meyukainya. Saya harap bisa berjumpa lagi dengannya. Kini ia berkeliaran di Eropa sedangkan saya kembali ke Istanbul dan menyapa kembali rutinitas saya.
Bulan Juli mungkin dia kembali ke Belanda. Bulan Juli, mungkin saya akan menemui nya lagi di Belanda.
Amsterdam.
Seorang pemuda berusia 23 tahun, berkelana ke benua eropa. Sendirian. Hal yang tak pernah ter-pikirkan bisa ia lakukan jika melihat kembali ke masa lalu.
Perjalanan spiritual ini mengajarkan saya. Bukan apa-apa tapi waktu lah yang menjadikan seseorang. Saya merasa hidup.
-8 April 2019-
Monday, April 8, 2019
Panduan Travelling ke Serbia
Ingin jalan-jalan ke Eropa tapi males urus visa dan kebetulan sedang berada di negara yang dekat dengan benua eropa?
Serbia adalah salah satu solusi terbaik.
Negara balkan ini memang menawarkan view yang top ditambah dengan vibe europenya serta keelokan rupa orang balkan dengan rambut kuning dan mata biru yang memanjakan mata.
| Jalan santai di Belgrade |
Sudah free visa sejak tahun 2017 bagi pemegang passport Indonesia, masih banyak yang tidak tahu atau masih ragu-ragu apakah Serbia benar-benar gratis visa dan jawabannya adalah "IYA" dan saya sudah membuktikan sendiri dengan pergi ke Serbia akhir bulan maret (2019) lalu.
Hal yang sering ditanyakan kepada saya adalah apa saja syarat free visa serbia, jawabannya hanya satu "PASSPORT"
Yup, hanya perlu passport yang masih valid untuk masuk ke Serbia.
Saya menghabiskan tiga hari dua malam di Belgrade, ibukota Serbia.
Berangkat hari jumat jam 11 pagi waktu Istanbul dan sampai Serbia pukul 11 pagi waktu setempat. Untuk penerbangan hanya memakan waktu 1 jam 45 menit. Saya mendarat di Bandara Nikola Tesla.
Saya kembali ke Istanbul Minggu malam sekitar jam setengah 7 waktu setempat
Untuk tiket sendiri saya dapat tiket seharga 970 TL atau sekitar 2,4 juta rupiah pp Istanbul Belgrade.
Hostelche Belgrade
Untuk makanan disana saya pergi ke restoran asian food karena kebetulan lidah saya tidak cocok dengan makanan eropa. Untuk yang ingin makanan halal bisa juga cari restoran Turki. Rata2 satu porsi makan sekitar 500an dinar Serbia atau sekitar 75ribuan rupiah.
Saya memutuskan untuk beli Sim Card lokal karna akan lebih mudah dan ternyata cukup murah juga hanya 300 dinar serbia atau sekitar 40ribuan rupiah dengan internet 12 GB. Dan yang menarik di Serbia adalah sim card itu dijual seperti kacang goreng. Beli kartunya, masukan ke handphone dan langsung aktif bahkan tanpa registrasi. Beda dengan di Turki yang agak ribet sampai scan passport segala atau di Indonesia yang harus pakai nomor kartu keluarga.
![]() |
| Kartu perdana Serbia |
Untuk transportasi, dari bandara bisa naik bus A1 yang bisa mudah ditemukan di luar gate kedatangan seharga 300 dinar (40ribu rupiah) ke city center. Kalau saya tinggal jalan belasan menit ke hostelche dari terminal.
![]() |
| Penampakan dalam bus |
| Penampakan dalam bus airport |
Transportasi dalam kota ada kereta dan juga bus yang menurut saya kurang bagus. Keretanya sangat tua dan bus nya juga kebanyakan hibah dari Jepang dan Swiss.. tapi lebih bagus jalan kaki karna Belgrade tidak terlalu besar untuk di explore dan destinasinya di Belgrade juga tidak banyak seperti Kalemegdan dan Nikola Tesla Museum.
![]() |
| Nikola Tesla Museum |
| Kalemegdan 1 |
![]() |
| Kartu Untuk Transportasi dalam kota |
Secara keseluruhan Serbia memang bukan top destinasi tapi layak dimasukkan ke dalam list.
Berikut alasan kenapa anda harus ke Serbia :
1. Bagian dari Balkan yang sangat eksotis dan orang-orang yang luar bisa ramah dan mostly bisa bahasa inggris.
2. Jika anda tinggal dekat Serbia, seperti saya di Istanbul, berakhir pekan di benua eropa dengan budget murah dan gak ribet.
3. Cukup murah secara keseluruhan dan negaranya sangat2 aman.
Sekian untuk info ke Serbia. Untuk lebih detailnya seperti apa yang bisa dilakukan di Serbia dan lokasi wisatanya mungkin akan saya buat di postingan lain.
Tuesday, April 2, 2019
Ketulusan Hati Orang Serbia
Saya mengunjungi Serbia karena kebetulan bebas visa dan sangat dekat dari Istanbul, Turki tempat saya tinggal saat ini...
Tidak seperti turis kebanyakan yang suka bikin rencana ketika traveling saya lebih suka random naik bus kemana2 dan sengaja tersesat hanya untuk melihat sekeliling..
Saya ingin bertanya kepada seorang wanita tua berambut putih yang duduk paling depan dimana perhentian bus terakhir.. “apakah kamu mengerti bahasa inggris?”
Dia menjawab dengan bahasa serbia yang intinya dia bilang “tidak”. Kemudian saya kembali ke tempat duduk saya dan yang mengejutkan saya ketika Ibu ini mondar mandir dan bertanya kepada penumpang2 yang lain apakah ada yang bisa bahasa inggris.
Karena hampir semua menjawab tidak. Ibu ini pun menghampiri saya dan meminta maaf karena tidak bisa membantu..
Ini sangat menyentuh hati saya karna saya terpaku pada stereotype bahwa orang eropa kebanyakan dingin, individual dan tidak begitu suka dengan orang asing.
Inilah yang saya dapatkan traveling. Sebuah pembelajaran yang membuka wawasan dan merubah pola pikir.
Perjalanan keluar negeri memiliki manfaat yang mungkin tidak kita sadari bahkan ketika tujuan kita hanya untuk foto2 dan posting di sosial media atau sekedar menghilangkan kebosanan
-Belgrade, 30 Maret 2019-
Daftar Negara Bebas Visa / VOA / E-VISA Untuk Pemegang Passport Indonesia
![]() |
| Serbia merupakan salah satu negara gratis visa untuk pemegang passport Indonesia |
Berikut daftar negara yang memberikan kebijakan bebas visa atau visa on arrival untuk wisatawan Indonesia, sebagaimana tercantum daftar oleh Henley Passport Index.
LAST UPDATE : 2 April 2019
Visa
Free
Keterangan :
Free Visa = Gratis masuk hanya perlu bawa passport
Visa on Arrival = Bisa beli visa ketika sampai di suatu negara
E-Visa = Beli visa secara online
Pre - Enrollment = Daftar visa online terus dapat visanya pas sampai di suatu negara
Tourist Card = Kartu turis yang bisa dibeli secara online
Tourist Registration = Bebas visa dengan syarat ketika kedatangan di suatu negara
eTA = Izin travel yang didapat secara online
Visa Waiver = Bebas visa dengan syarat dan ketentuan
1. Belarus
(30 hari)
2. Brasil
(30 hari)
3. Brunei
Darussalam (14 hari)
4. Cambodia
(30 hari)
5. Chile
(90 hari)
6. Colombia
(90 hari)
7. Dominica
(21 hari
8. Ecuador
(90 hari)
9. Fiji
(120 hari)
10. Gambia
(90 hari)
11. Guyana
(30 hari)
12. Haiti
(90 hari)
13. Hong
Kong (30 hari)
14. Laos
(30 hari)
15. Macao
(30 hari)
16. Malaysia
(90 hari)
17. Mali
(30 hari)
18. Micronesia
(30 hari)
19. Morocco
(90 hari)
20. Myanmar
(14 hari)
21. Namibia
(90 hari)
22. Palestinian
Territories
23. Peru
(180 hari)
24. Philippines
(30 hari)
25. Qatar
(30 hari)
26. Rwanda
(90 hari) visa on arrival gratis
27. Saint
Kitts Nevis (90 hari)
28. Serbia
(30 hari)
29. Singapore
(30 hari)
30. St.
Vincent and the Grenadines (30 hari)
31. Thailand
(30 hari)
32. Uzbekistan
(30 hari)
33. Vietnam
(30 hari)
E-Visa
only
1. Antigua
and Barbuda
2. Australia
3. Bahrain
4. Benin
5. Djibouti
6. Ethiopia
7. Georgia
8. India
(30 hari)
9. Kazakhstan
10. Kenya
(90 hari)
11. Lesotho
(14 hari)
12. Moldova
13. Nigeria
14. Oman
(30 hari)
15. Sao
Tome and Principe
16. Turkey
(30 hari)
17. Ukraine
18. United
Arab Emirates
19. Zambia
Visa
on Arrival only
1. Angola
(30 hari)
2. Comoros
(30 hari)
3. Cape
Verde
4. Jordan
5. Madagascar
(90 hari)
6. Malawi
(30 hari)
7. Maldives
(30 hari)
8. Marshall
Island (30 hari)
9. Mauritania
10. Mauritius
(60 hari)
11. Mozambique
(30 hari)
12. Nepal
(90 hari)
13. Nicaragua
(30 hari)
14. Palau
(30 hari)
15. Samoa
(60 hari)
16. Somalia
(30 hari)
17. Timor
Leste (30 hari)
18. Togo
(7 hari)
19. Tuvalu
(30 hari)
20. Zimbabwe
(90 hari)
Visa
on Arrival / E-visa
1. Armenia
(120 hari)
2. Azerbaijan
(30 hari)
3. Bolivia
(90 hari)
4. Gabon
(90 hari)
5. Guinea-Bissau
(90 hari)
6. Iran
(30 hari)
7. Kyrgyzstan
(30 hari)
8. Pakistan
(90 hari)
9. Papua
New Guinea (60 hari)
10. Tajikistan
45 hari
11. Tanzania
12. Uganda
Lain-
Lain
1.
Ivory Coast (Pre-Enrollment)
2. Cuba
(Tourist Card 30 hari)
3. Seychelles
(Tourist Registration 30 hari)
4. Srilanka
(eTA 30 Hari)
5. Suriname
(Tourist Card 90 hari)
6. Japan
(visa waiver registration / 15 days)
Keterangan :
Free Visa = Gratis masuk hanya perlu bawa passport
Visa on Arrival = Bisa beli visa ketika sampai di suatu negara
E-Visa = Beli visa secara online
Pre - Enrollment = Daftar visa online terus dapat visanya pas sampai di suatu negara
Tourist Card = Kartu turis yang bisa dibeli secara online
Tourist Registration = Bebas visa dengan syarat ketika kedatangan di suatu negara
eTA = Izin travel yang didapat secara online
Visa Waiver = Bebas visa dengan syarat dan ketentuan
Subscribe to:
Posts (Atom)










