Saturday, January 3, 2026

3/365 (Perang Dunia ke 4)

3 Januari 2026

Saat ini ditulis, berita dihebohkan dengan penangkapan presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat. Baru saja mulai tahun 2026 sudah ada keributan baru di dunia.

Pemimpin pemimpin dunia banyak yang mengecam apa yang dilakukan Amerika. Tapi kecaman hanyalah kecaman, agaknya para pemimpin di suatu negara ini sangat hobi mengumbar kecaman, tapi hanya sampai disitu.

Sejak selesainya perang dunia ke 2 di tahun 1945. Apakah mereka yang hidup di jaman itu mengira peperangan benar-benar berakhir? Atau hanya tertunda.

Hingga awal 2026, banyak spekulasi tentang perang dunia ke 3 akan terjadi. Tapi tanpa sadar bahwa perang dunia ke 3 sudah terjadi sejak lama. Hanya saja bersifat sporadis. Israel vs Palestina, Ukraina vs Rusia, Amerika vs Iran, Azerbaijan vs Armenia dan banyak lagi. 

Bahkan baru baru ini terjadi perang kecil di perbatasan  Thailand dan Kamboja. 

Tentu banyak yg akan membantah bahwa itu tidak bisa dibilang perang dunia. Karena seluruh dunia bersepekat bahwa perang yang terjadi itu harus melibatkan banyak pihak.

Meskipun tidak terlibat mengangkat senjata, tapi negara yang ‘tidak berperang’ tentu punya perang masing-masing. Embargo, suplai senjata, mengumbar ‘kecaman’.

Dengan perkembangan teknologi yang ada sekarang, senjata pemunah masal bukan lagi mitos. Saya rasa itu juga yang menyebabkan dunia lebih suka perang kecil-kecilan daripada perang berjamaah. 

Perang adalah kejahatan umat manusia yang dimaklumi dan pada akhirnya dimaafkan.

Jika perang dunia ke 3 ini membesar, ada satu pertanyaan yang muncul di kepala saya. Bahwa apakah peradaban akan tetap ada atau bisa hidup untuk memulai chapter yang baru. Yaitu perang dunia ke 4


Friday, January 2, 2026

2/365 「今度は今度。今は今。」

 2 Januari 2026

「今度は今度。今は今。」

Beberapa hari yang lalu, saat scrolling IG Reels, lewat sebuah video yang menarik perhatian saya. Video berbahasa Jepang yang sumbernya dari film jepang yang berjudul Perfect Days (2023), yang intinya mengatakan bahwa, nanti ya nanti, sekarang ya sekarang.

Saya memaknai itu bukan seolah-olah kita tidak perlu memikirkan masa depan. Tapi lebih tepatnya untuk tidak hidup di masa depan dan menikmati momen yang sekarang sedang berlangsung.

Saya termasuk orang yang ambisius, meskipun itu kadang positif. Tapi sering saya melupakan esensi dari kehidupan. Saya terlalu khawatir tentang apa yang akan terjadi di masa depan.

Saat saya baru mulai belajar bermain saham, tidak hentinya saya membuka HP dan mengecek pergerakan dari saham yang saya beli. Tak jarang juga gelisah khawatir apakah keputusan untuk membeli saham tersebut benar atau salah.

Di video yang lain. Ada dua orang laki-laki yang sedang menunggu bus. Yang satunya terlihat sangat gelisah dan panik karena bus yang ditunggu tidak kunjung datang, yang satu lagi terlihat santai.

Si A pun bertanya kepada si B, kenapa dia terlihat tidak peduli. Lalu dia berkata "bagaimapun reaksiku, bus nya tidak akan datang lebih cepat, aku juga ingin bus itu segera datang, tapi aku tahu tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Jadi apa yang terjadi, terjadilah."

Dua video berbeda tapi memiliki pesan yang sama. Jangan terlalu ambil pusing dengan apa yang akan terjadi. Selama kita berhati-hati dan berusaha, apapun hasilnya, jika kita tidak bisa kontrol. Lepaskanlah dari pikiran.

Mudah dikatakan, tapi sulit dilakukan. Meskipun begitu, mungkin kita hanya perlu latihan...


Thursday, January 1, 2026

1/365 (Buang Buang Waktu)

1 Januari 2026

Hampir setiap tanggal 31 Desember saya berdiam menantikan detik detik tahun baru dan bersiap menyambut hari pertama di tahun baru dengan berbagai macam rencana rencana atau resolusi. Juga dengan evaluasi tentang apa saja yang saya lakukan dalam waktu satu tahun,

Tapi hari kemaren berbeda, tepat jam 10 malam atau dua jam sebelum pergantian tahun, saya menghabiskannya dengan private bahasa jepang, tepat di pertemuan yang ke 131.

Ya, di 2025 mungkin hal yang paling saya banggakan adalah satu tahun penuh memulai lagi belajar bahasa jepang yang sebelumnya sempat saya lakukan di 2016 dan berhenti di 2017 saat pindah ke Turki.

Tidak seperti 1 Januari yang biasanya dimana saya akan melakukan ceklis pada semua resolusi. Saya menjalani hari pertama di 2026 dengan rileks. 

Saya menemui sebuah dilema apakah harus menjalani tahun ini dengan buku agenda, mencatat semua pengeluaran... atau HIDUP.

Saya yakin tentunya susah untuk menghentikan kebiasaan yang bahkan menurut saya itu positif ketika kita sudah merasa auto pilot dengan kebiasaan itu. Tapi saya akan melihat, bagaimana tahun ini akan berjalan. 

Tahun lalu menurut saya tidak buruk. Tapi di 2026, saya akan genap berusia 30 tahun. Tentunya sudah tidak ada lagi hal seperti buang buang waktu.

Wednesday, December 10, 2025

This too shall pass...


Secangkir kopi di pagi hari, sering bikin perut mulas. Ternyata karena memang kopi punya kandungan yang bikin kita jadi ingin berak.

Kalau ada meeting atau presentasi penting di hari, janganlah minum kopi kecuali kalau ada waktu untuk berak. Karena faktanya, rasa gugup pun bikin ingin berak.

Tapi ini bukan tentang berak, ini tentang anxiety... Lalu apa hubungannya berak dengan anxiety atau kecemasan? Faktanya, kecemasan pun bikin ingin berak.

Tapi ini bukan tentang berak... Oh iya tadi sudah ya.

Apa yang membuat kita khawatir, gugup, cemas? Ketidakpastian. Apa yang menyebabkan ketidakpastian? tentunya bukan berak... walaupun berak juga tidak selalu pasti jadwalnya. Kadang-kadang jam 10 pagi, kadang-kadang jam 8.15.

Manusia yang hidupnya susah sejak kecil akan lebih membenci ketidakpastian. Ketakutan dari ketidakpastian, itulah yang dinamakan kecemasan atau anxiety.

Tapi seberapa sering kecemasan berlebihan itu terjadi? 80 persen? 90 persen? Setidaknya dalam hidup saya, 95 persen hal yang saya cemaskan itu tidak terjadi. 

Bahkan kalaupun terjadi, ya sudah... this too shall pass. Jadi berhentilah hidup di masa depan, hiduplah di hari ini, jam ini, menit ini, detik ini, berak ini...

Setiap kesulitan yang kita hadapi pasti akan berlalu. Lalu kehidupan kita menyesuaikan dengan apa yang telah terjadi.

Itu...

Sunday, November 3, 2024

Masih Dalam Pencarian...




Belasan tahun yang lalu, saya melihat sebuah iklan rokok yang membahas soal pencarian jati diri. Tapi bukan iklan, juga bukan rokok yang ingin saya bahas. Melainkan, dua kata terakhir dari kalimat awal 'jati diri'.

Tahun ini saya berusia 28 tahun. Sebuah angka yang bisa sangat multitafsir. Untuk orang Indonesia, saya sudah masuk di usia matang, sedangkan kalau di Eropa atau Asia Timur, saya masih terhitung cukup muda.

Di usia saya yang sekarang, saya bekerja sebagai regional sales manager untuk perusahaan Belanda. Wilayah tugas saya mencakup Asia Tenggara, tapi tidak menutup kemungkinan untuk ekspansi ke wilayah Asia lainnya seperti Asia Timur.

Bidang pekerjaan yang sudah saya geluti selama tujuh tahun lebih jika dihitung hingga hari saya menulis tulisan ini. 

Dua minggu setelah acara wisuda, saya terbang ke Istanbul untuk memulai hari dimana saya akan berpijak diatas kaki saya sendiri. Saya mungkin termasuk orang yang beruntung, karna saya sudah mendapatkan pekerjaan bahkan sebelum  diwisuda.

Tapi jika saya melihat kebelakang, apa yang saya anggap keberuntungan, mungkin saja... tidak.

Suatu hari di 2016, saya ingat betul, ketika itu dosen tidak masuk dan hari itu tidak ada lagi jadwal kuliah, saya pulang dan memilih untuk rebahan, sambil berbaring, isi kepala saya dipenuhi ambisi dan semangat untuk segera menyelesaikan kuliah dan meninggalkan kampung halaman.

Di tahun yang sama, seorang kawan sejak kanak-kanak pulang ke Padang karna libur kuliah, seorang kawan yang saya akui kepintarannya melebihi saya, dia seorang mahasiswa Universitas Indonesia.

Kami duduk diatas bebatuan di pinggir pantai sedikit bernostalgia soal masa kecil, ketika matahari mulai terbenam saya berujar "tahun depan saya akan tinggal di luar negeri". Satu kalimat yang saya katakan penuh dengan keyakinan dan setahun kemudian... berhasil saya buktikan.

Saya memulai karir pertama kali di usia 21 tahun, bekerja di bidang pemasaran untuk skala internasional. Saya bekerja sesuai dengan jurusan ketika kuliah. Ini mungkin bisa saya anggap sebagai keberuntungan, tapi dibalik itu semua, ada harga yang harus saya bayarkan, yaitu... kesehatan mental.

Berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan, tidak serta merta memberikan kita kebahagiaan. Itulah yang sekarang mulai saya pahami. 

Hal yang membuat saya bisa berada di posisi sekarang adalah karna saya orang yang ambisius. Bahkan sejak SD saya sudah sangat kompetitif. Saya selalu berusaha untuk jadi lebih baik dari orang lain. Saya tidak berhenti membuat target dan mengejarnya. Beberapa bisa saya capai, tapi ada juga yang gagal.

Memaksakan diri merantau di usia yang sangat muda ke kota yang dulu bernama Konstantinopel sendirian untuk memulai karir, saya merasa jahat pada diri sendiri, karna saya terpaksa harus menjadi dewasa sebelum waktunya.

Hal yang dulu saya kejar, yang saya pikir akan membuat saya bahagia ternyata hanya memberikan kekosongan dan kesenangan yang semu. 

Saya tentunya bersyukur dengan apa yang saya dapatkan. Bukan nasib baik, melainkan pelajaran hidup selama tujuh tahun belakangan, itulah yang paling saya syukuri. 

Menjadi dewasa artinya melakukan apa yang harus kita lakukan walaupun kita tidak menyukainya, Menerima kenyataan demi kenyataan dengan lapang dada.

Katanya selepas remaja, manusia akan mulai mencari jati dirinya. Tapi saya rasa, kata 'mencari' itu tidak tepat. Karna jati diri itu harusnya bukan 'dicari' tapi 'ditemukan', dan sampai saat ini saya masih belum menemukannya.

Tuesday, July 2, 2024

Warung Kopi

Waktu menunjukan pukul 20.35, saya bergegas keluar karna rencana malam ini ingin duduk sambil minum kopi. Maniak macam apa yang minum kopi jelang waktu tidur? Ya walaupun katanya kafein bisa mencegah kantuk, untungnya buat saya itu tidak ada pengaruh. Tapi kalau dipikir-pikir orang Indonesia punya kebiasaan minum kopi di malam hari. Saya rasa ini terlihat unik bagi orang luar.

Kepulangan ke kampung halaman untuk datang ke acara nikahan teman SMA. Tapi sayangnya hanya sebentar saja karna saya sudah harus berangkat ke Thailand selang beberapa hari. Trip yang akan cukup panjang karna ada beberapa negara yang harus saya kunjungi untuk trip kali ini. 

Biasanya salah satu rutinitas setiap pulang ke Padang adalah bertemu beberapa teman. Tapi ada yang berbeda di tahun ini. Mereka yang biasa saya temui, semuanya sudah melepas status lajang.

Tentu bukan berarti saya tidak bisa lagi bertemu dengan mereka ketika pulang ke kampung halaman. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa itu tak akan lagi sama.

Jadi malam ini saya putuskan untuk duduk sendiri diluar. Bisa dibilang membiasakan diri untuk tahun-tahun kedepan.

Tak terasa sudah setengah jam saya berkeliling mencari tempat untuk minum kopi. Tentunya tidak mudah karna yang saya cari adalah tempat yang nyaman untuk duduk sendiri. Pandangan saya tiba-tiba terhenti pada sebuah warung kopi yang sedikit terpencil berada dekat stasiun kereta api tua yang kini sudah dioperasikan lagi, hampir tidak ada lampu penerangan jalan disekitarnya.

Ada sekitar empat orang di warkop itu dan mereka sedang menonton pertandingan timnas muda melawan Australia. Saat saya hendak masuk, semua serentak memandangi saya. Seolah-olah saya adalah alien yang sedang singgah di planet mereka. Jujur saya sedikit terganggu karna mereka tidak hentinya menatap tajam ke arah saya. Dalam hati saya berkata "harusnya saya tidak usah datang kesini!"

Saya berkeyakinan yang paling lama menatap saya pastilah orang yang punya warkop tersebut, dan spontan saja saya bertanya apa saya bisa minum disini?

"Ya bisa" ujar bapak tua itu.

Ketika saya menunggu dibuatkan kopi, saya tidak ada teman mengobrol jadi mungkin saya bisa merefleksikan semua yang sudah saya lewati dan pandangan saya terhadap tempat yang dulu saya anggap rumah ini. Kota kecil di tepi pantai barat pulau Sumatera. Tempat dimana saya memulai semuanya. Tempat dimana saya mulai bermimpi.

Kota ini sudah banyak berubah setelah tujuh tahun saya tinggalkan. Sekarang jauh lebih banyak tempat hiburan, bahkan yang dulunya saya pikir tidak akan pernah ada di kota ini. Coffee shop sudah sangat menjamur, hanya saja sekarang tempatnya lebih nyaman. Benar-benar memanjakan anak muda.

Disini sudah sangat jarang saya secara tidak sengaja bertemu dengan orang yang saya kenal. Wajah wajah di sekitar terlihat sangat asing. Saya rasa mungkin mereka ini adalah mahasiswa yang berasal dari luar daerah. Saya merasa seperti orang asing di kota sendiri.

Mayoritas teman-teman saya sudah merantau. Jadi ketika berkunjung kesini tidak banyak yang bisa saya temui. 

Apakah kota ini masih rumah? Saya sudah berkunjung ke beberapa negara. Salahkah saya merasa negara orang lebih terasa seperti rumah. Apakah rumah itu harus tempat lahir? Bolehkah kita memilih rumah sendiri? Di tempat kita merasa tidak asing. Di tempat kita merasa hidup?

Usia saya  28 tahun. Banyak hal yang sudah saya lalui, Tapi apakah saya benar-benar sudah dewasa? 

Saya menyelesaikan kopi yang sudah sampai di meja dan bergegas untuk meninggalkan warkop tersebut. Bapak tua tadi bertanya saya hendak kemana? Apa kopinya tidak enak? karna tidak habis.

Saya hanya mengarang jawaban kalau saya akan menemui teman dan kopinya tidak habis karna saya takut nanti tidak bisa tidur. Ya saya sendiri akhirnya menulis ini larut malam.

Tapi saya merasakan keramahan dari bapak tersebut, mungkin karna dia terkejut warkopnya yang sebenarnya cukup sepi tiba-tiba didatangi orang asing.

Sebenarnya saya merasa tidak enak hati karna takut bapak itu berpikir bahwa saya benar-benar tidak suka kopinya. Saya rasa asumsi bapak tersebut akan tervalidasi sendirinya ketika beliau sudah tidak lagi melihat saya datang ke warkopnya untuk waktu yang lama. 

Ketika bapak itu tidak lagi melihat saya datang, saya hanya ingin bapak itu tahu, bukan karna kopi, tapi memang kota ini sudah bukan lagi rumah saya. Saya tidak membenci kota ini, dan saya tidak bisa merubah fakta bahwa ini adalah kampung halaman saya. Tapi sayangnya... kota ini... tak lagi sama.

Friday, March 22, 2024

JALAN JALAN KE KAZAKHSTAN, CAKEP!



Bulan Agustus kemaren, saya menghadiri acara pernikahan teman saya di Turki, saya berpikir untuk singgah ke negara terdekat, karna mumpung lagi di Turki. Sebagai orang yang malas mengurus visa, saya selalu update tentang negara2 yang bebas visa untuk passport Indonesia. Kazakhstan menjadi opsi pertama bagi saya.

Sebelumnya disclaimer, saya bukan tipe traveller well prepared, saya cenderung lebih casual kalau traveling, makanya saya pilih negara bebas visa. Tapi mungkin akan ada sedikit informasi yang bisa saya bagikan untuk teman2 yang penasaran dengan Kazakhstan.

Visa
Indonesia bebas visa 30 hari ke Kazakhstan, jadi hanya perlu bawa passport yang masih berlaku.

Kota Tujuan
Di Kazakhstan ada dua kota besar, ibukota Astana dan kota wisata paling populer yaitu Almaty. Saya sendiri memilih ke Astana karena kebetulan saya punya teman warga lokal yang tinggal dekat sana. Ketika sudah sampai disana, saya diajak untuk berkunjung ke Almaty, jadi saya mengunjungi kedua kota tersebut.

Harga Tiket dan Maskapai
Saya naik Scat Airlines, maskapai kelas dua milik Kazakhstan, dari Istanbul - Astana pulang pergi kurang lebih 6 jutaan, booking H-3. Untuk Astana - Almaty pulang pergi kurleb 1,8 juta. Sebagai referensi, maskapai terbaik Kazakhstan adalah Air Astana, harga tiketnya tidak terlalu jauh. Tapi buat saya yang penting sampai dan murah, dan Scat ini oke2 aja. Durasi penerbangan IST - AST (5 jam an), AST - IST (6 jam an), kenapa balik Astana - Istanbul lebih lama? Entahlah

Imigrasi
Ketika saya landing di Astana malam hari jam 10, konter imigrasinya cukup sepi, di konter sebelah saya ada bule sepertinya dari jerman yang cukup banyak ditanya2 oleh orang imigrasinya. Saya sendiri tidak terlalu banyak ditanya, tapi petugas konternya kemudian membawa passport saya dan berkonsultasi dengan rekannya di konter sebelah, saya tidak tau kenapa, tapi asumsi saya, mungkin karna dia tidak yakin apakah orang indonesia bebas visa, atau dia bingung kenapa saya ke ibukota Astana, padahal yang lazim dikunjungi turis itu Almaty. Setelah diskusi dengan rekannya, si petugas kembali ke konter dan menyerahkan passport yang sudah dicap dan mempersilahkan saya masuk, jadi saya di konter imigrasinya kira2 7 menitan, termasuk lama karna di Istanbul dan Bangkok biasanya paling lama 1-2 menit. Tapi wajar, baru pertama kali masuk dan turis Indonesia termasuk langka. Passport saya lumayan banyak cap dan travelling historinya, mungkin sedikit banyaknya memudahkan saya di konter imigrasi karna travelling record saya bisa dibilang baik.

Astana
Beruntungnya punya teman warga lokal, saya ga perlu pusing riset mau kemana, jadi saya tinggal ikut dia aja, saya menghabiskan 2 hari di Astana, kota ini terlihat seperti Rusia, wajar karna pecahan Uni Soviet (saya belum pernah ke rusia, tapi teman saya bilang Astana emang rada mirip moskow). Di Astana saya mengunjungi Baiterek, Nur Astana Mosque, National Museum of Kazakhstan, dan tentunya jalan2 ngalor ngidul ala solo backpacker. Di bulan September ketika di Istanbul masih panas, disini cukup dingin, kira2 10 derajat. Kesan saya tentang Astana, adalah kota yang bisa dibilang maju dan indah. Kota ini sangat bersih dan tertata rapi, jalanan juga tidak terlalu padat. Sebuah kota yang tidak terlalu ramai penduduk.

Almaty
Dari Astana ke Almaty, kira2 1 jam 45 menit naik pesawat (Scat Airlines). Kesan pertama saya dengan kota ini adalah cukup mirip Istanbul dari bangunan dan vibesnya. Bisa dibilang termasuk padat penduduk. Kalau teman2 pernah ke turki, kurang lebih Astana = Ankara, Almaty = Istanbul. Di Almaty saya hanya jalan2 sekitaran kotanya dan sempat ke resort pegunungan Shymbulak, disana bisa naik cable car untuk melihat pemandangan, tapi buat saya tempat ini lebih bagus kalau dikunjungi saat winter ketika resort ini bersalju. Sebenarnya di Almaty ini banyak sekali yang bisa dieksplor, tapi berhubung saya mager traveller dan kebetulan juga waktunya mepet, jadi saya tidak terlalu maksimal di kota ini, tapi setidaknya saya bisa ketemu teman2 baru yang kebetulan dikenalkan oleh teman saya, momen berkesan yaitu jalan2 mengitari kota almaty di malam hari sambil mendengar cerita2 dari mereka.

SIM Card, Mata Uang, Transportasi, Hotel
Untuk Sim Card saya beli sim card lokal Beeline di dalam bandara, tidak mahal, cuma 100ribuan dan kuotanya lebih dari cukup, Mata Uang Kazakhstan adalah Tenge, bisa ditarik di ATM di dalam bandara, penyesalan saya adalah menghabiskan semua uang saya tanpa sisa untuk beli oleh2, jadi gak ada yang disimpan untuk kenang2an. Untuk transportasi bisa pakai Yandex Go, aplikasi mirip Grab yang simple dan mudah digunakan. Hotel sendiri bisa searching di Agoda atau apps sejenis, budget 300 ribuan ada kok udah lumayan.

Orang Kazakhstan
Jangan berekspektasi kalau orang Kazakhstan itu ramah2, bagaimanapun mereka adalah pecahan uni soviet yang cenderung dingin, tapi beda cerita kalau kita sudah berteman dengan mereka. Untuk bahasa sendiri, ada dua yaitu Rusia dan bahasa lokal Kazakh yang masih satu rumpun dengan bahasa turki. Yang saya kagumi dari Kazakhstan ini adalah hampir semua orang good looking, ada tiga tipe orang kazakhstan berdasarkan looks, bule (russian), mixed, dan asia timur. Kalau teman2 pikir orang turki cakep2, percayalah di kazakhstan jauh lebih good looking, dan dalam pikiran saya selama disana beberapa hari adalah "kok ga ada yang jelek ya?" haha. Mayoritas mereka adalah muslim tapi bukan konservatif.

Total Pengeluaran dan Sedikit Tips
Saya menghabiskan sekitar 12 juta untuk travelling ke Kazakhstan dari Istanbul, tapi pengeluaran ini masih sangat bisa dipress kalau saja saya lebih well prepared, kalau budget terbatas sebenarnya Almaty saja sudah cukup, ga harus ke Astana, tapi kalau bisa keduanya kenapa engga. Kalau ke Almaty saran saya juga ke negara tetangga yang juga bebas visa seperti Tashkent, Uzbekistan. Dengan biaya yang sama, kalau saja saya tidak ke Astana, harusnya saya bisa dapat dua negara sekaligus, Uzbekistan dan Kazakhstan.

Kesimpulan : Kazakhstan adalah negara di Asia tengah yang sangat underrated, ga banyak yang tau tentang negara ini, tapi negara ini kaya akan uranium dengan Human Development index yang sangat tinggi, saya bilang Kazakhstan ini hampir setara dengan korea selatan. Tapi meskipun begitu, untuk wisata, sebenarnya saya tidak akan masukkan dalam kategori 'must visit' tapi tetap worth to visit, negara yang cukup sekali aja dikunjungi. Kalau disuruh pilih Turki atau Kazakhstan, sudah pasti saya rekomendasi Turki, tapi buat saya pribadi, mengingat bahwa saya adalah sedikit dari orang Indonesia yang pernah mengunjungi Kazakhstan, it's a flex, not to others, but for myself. Yeah i was there :)

*Tulisan ini mungkin akan saya update kedepannya untuk info lebih detail atau koreksi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...